Di era media sosial, kepribadian online kita sama pentingnya dengan identitas kita di kehidupan nyata. Dari selfie hingga sultan, cara kita menampilkan diri secara online telah berkembang secara signifikan selama bertahun-tahun.
Semuanya dimulai dengan munculnya selfie. Dengan munculnya ponsel cerdas yang dilengkapi kamera depan, mengambil potret diri menjadi lebih mudah dari sebelumnya. Orang-orang mulai memposting foto selfie di platform media sosial seperti Instagram dan Facebook, menampilkan sudut dan filter terbaik mereka. Kegemaran selfie dengan cepat mengambil alih internet, dan semua orang mulai dari selebriti hingga orang biasa ikut-ikutan.
Seiring dengan meningkatnya popularitas selfie, tekanan untuk menampilkan kepribadian online yang sempurna juga meningkat. Orang-orang mulai dengan cermat menyusun profil media sosial mereka, dengan cermat memilih foto dan postingan yang mereka bagikan untuk menciptakan citra diri mereka yang sempurna. Fenomena ini memunculkan istilah “Instagrammable”, yang mengacu pada sesuatu yang menarik secara visual dan layak untuk dibagikan di media sosial.
Namun, ketika platform media sosial menjadi jenuh dengan foto selfie yang berpose sempurna dan feed yang dikurasi, reaksi balik mulai muncul. Orang-orang mulai mendambakan keaslian dan realita dalam interaksi online mereka. Pergeseran pola pikir ini membuka jalan bagi tren baru dalam dunia online: sultanking.
Sultanking adalah tindakan menerima ketidaksempurnaan dan kerentanan dalam kepribadian online seseorang. Dinamakan berdasarkan nama penguasa Ottoman yang terkenal, Suleiman yang Agung, yang dikenal karena kelemahan dan sifat kemanusiaannya, kesultanan mendorong orang-orang untuk menjadi diri mereka sendiri secara online. Ini tentang berbagi yang baik, yang buruk, dan yang jelek, dan bersikap transparan tentang suka dan duka kehidupan.
Di dunia di mana setiap orang berjuang untuk kesempurnaan di media sosial, sultanking menawarkan perubahan yang menyegarkan. Hal ini memungkinkan orang untuk terhubung pada tingkat yang lebih dalam dengan berbagi jati diri, kekurangan, dan semuanya. Sultanking adalah tentang menerima ketidaksempurnaan dan merayakan individualitas, daripada menyesuaikan diri dengan standar kecantikan dan kesuksesan masyarakat.
Dari selfie hingga sultanking, evolusi persona online mencerminkan perubahan sikap terhadap media sosial dan presentasi diri. Meskipun selfie mungkin masih mendapat tempat di dunia digital, sultanking mendapatkan momentum sebagai cara yang lebih autentik dan relevan untuk berinteraksi dengan orang lain secara online. Baik Anda pecinta selfie atau penggemar sultan, kuncinya adalah jujur pada diri sendiri dan biarkan kepribadian unik Anda terpancar dalam kehadiran online Anda.
